Air Mata Itu Tumpah di Hadapanku

Sengatan mentari menambah panasnya persaingan manusia di muka bumi ini, tak terkecuali di atas angkot langit Semarang. Sang sopir bergerak dengan gila-gilaan, mengombang-ambingkan penumpang.

Seorang ibu agak tua, berkerudung hitam, berbaju batik, bercelana kolor panjang dan bersandal jepit menatapku. Kami duduk di bangku paling belakang. Sorot matanya seakan ingin berkata, mengadu: mengapa sang sopir ugal-ugalan begini. Kubalas tatapan itu dengan senyuman.

Setelah mobil berjalan agak tenang, entah mengapa, ia membuka tanya kepadaku.
“Mau kemana, Nang?”
“Jogja, Bu”
“Jogjanya mana?”
“UGM”
“Kuliah?”
“Tidak, cuma mau ikut seminar aja”
“Seminar apa?”
“Islam dan Misi Transformasi Sosial”

Kemudian ia diam sejenak, sambil membuka tas hitam kecil yang ia slempangkan. Ia ambil ponsel, dan membukanya.
“Suamiku kerja di Jogja, Nang,” katanya, sambil memeperlihatkan foto suaminya, kepadaku.
“Dia bekerja di sekitar ini (menyebut tempat). Jika ketemu, bilang padanya, kalau kamu ketemu aku”
“Iya, bu, Insya Allah,” jawabku, tak begitu tertarik.
“Sudah delapan bulan kita tak bertemu,” tuturnya, yang membuat saya agak deg.
“Delapan bulan? karena urusan kerja, atau ada masalah, Bu?” tanyaku spontan, diluar kendali.

Ia terdiam. Wajah senyum di awal perjumpaan kini tak lagi kulihat. Air matanya pun tumpah di depanku, tak kuasa ia tahan, meski ditengah banyak penumpang. Namun kemudian, kedua tangannya segera menyeka.

“Karena ada masalah, Nang,” jawabnya, jujur. Saya mencoba menyimak, menampung segala derita, aduan dan pelbagai hal dari manusia dan persoalannya.

“Kami dulu usaha bersama di Jogja. Saya dari Surabaya, suami saya Jogja. Kami saling mencintai. Pernikahan kami sudah berlangsung lama puluhan tahun. Sampai suatu saat, ia mengawini karyawan kami. Jadi lebih baik saya pergi. Usaha dan harta hasil dengan suami saya tinggal.”
“Ibu marah karena suami ibu poligami tanpa ijin dahulu?”
“Tidak juga, Nang. Karena mulut istri barunya suaranya menyakitkan.”
“Kenapa Ibu tidak menuntut harta ibu? itu kan hak ibu?”
“Biarlah mereka pakai. Lagi pula, saya tidak ingin ribut.”
“Ibu bersama siapa di Semarang ini?”
“Sendiri, Nang. Saya kabur meninggalkan jejak. Padahal saya tahu, suami saya masih terus mencari-cari saya. Saya tahu suami saya masih mencintai saya, cintanya untuk saya…..”

Air matanya kembali jatuh tertumpah, tak kuat meneruskan. Aku mencoba memahami. Mungkin, ini adalah rahasianya yang baru tertumpah kepada seseorang, dan orang itu adalah aku.

“Maaf, lha aktivitas ibu di Semarang ini apa?” tanyaku.
“Saya buka warung, Nang. Yang jaga ada, yang bantu-bantu saya mengurusnya.”
“Ibu punya anak?”
“Tidak, Nang. Selama pernikahan kami, belum di karuniai anak”
“Oh, maaf…”
“Setiap hari, Nang, selama berbulan-bulan, saya keliling-keliling kota Semarang begini, dengan naik angkot begini, dengan busana seperti ini, untuk menghilangkan stress”
“Oh ya, bu..” balasku sambil mengernyitkan dahi, dan terus menyimaknya.

“Sampai-sampai, beberapa ibu dekat rumah saya seakan risih saya berpenampilan seperti ini, Nang. Mereka menyarankan pakaian, make up dan macam-macamnya untuk saya, tetapi saya tolak”

Kemudian ia menunjukkan foto dirinya, yang ada di ponselnya. Kulihat, di foto ia terlihat cantik, jauh dari penampilan yang ada di depan saya. Dalam foto itu, ia bercelana, memakai blazer hitam, sepatu hak tinggi, berdiri di pintu mobil silver dengan pintu terbuka. Jauh sekali perbedaannya, bagai bumi dan langit.

“Saya hanya berdandan untuk dua hal mas: pertama untuk Allah, dan yang kedua untuk suami saya,” katanya. Entah mengapa, hatiku berdebar mendengar pernyataan itu, yang kini keluar dari seorang wanita berpenampilan agak lusuh di depanku. “Saua takkan dandan untuk orang lain. Biarlah seperti ini,” imbuhnya.

“Maaf, bu, bolehkan saya tahu nama Ibu?”
“Di daerah saya tidak ada yang tahu nama saya, Nang. Selama ini saya memakai nama lain”
“Nama saya Naufa bu, Ahmad Naufa,” balas saya, mencoba meyakinkannya terlebih dahulu.
“Nama saya M*******. Tapi ditempat saya saya memakai nama B**** Kapan-kapan main, Nang, mencarinya dengan nama yang terakhir ini, di daerah ini saya tinggal,” ungkapnya, mau jujur memberikan nama aslinya kepadaku.
“Insya Allah, bu, semoga suatu saat saya bisa bersilaturrahmi”

Kemudian angkot berhenti di Sukun, sebuah persimpangan yang memecah jurusan bus menuju Solo, Jogjakarta, Cilacap dan Surabaya. Aku berpamitan kepadanya.

“Jangan lupa, mas, kalau ketemu suami saya, bilang saja kamu baru ketemu saya. Tetapi tolong, jangan beritahu dimana saya sekarang,” pesannya.
“Insya Allah, bu, semoga nanti ketemu”

Dan aku turun dari angkot, membayar, dan berjalan menuju bus jurusan Jogja.
“Hati-hati di jalan, mas,” teriaknya, dari jendela angkot.
“Iya bu,” jawabku, sambil memberinya senyum.

Dan aku terus berpikir – bahkan sampai detik ini – cinta seperti apa yang ibu tua itu alami dan maui. Ia menikmati ketersiksaannya, juga cintanya yang diam-diam, ditengah kota metropolitan.

Ah, apapun itu, semoga aku nantinya dapat menemukan suaminya – lelaki yang menduakannya, dan yang menjadi sebab atas kepergiannya – minimal sebagai perantara, laiknya dayung yang mengantarkan sampan ke dermaga cintanya. Meski, hanya untuk beberapa baris kata-kata:

“Pak, aku baru saja bertemu istrimu, yang sudah delapan bulan tak bertemu. Ia masih merindukanmu, juga tahu kau merindukannya. Dan kini dia baik-baik saja.”

(PP. Sunny Darussalam, Jogjakarta, 20 Desember 2016)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: