Ikhtiar Sistemik Menyelamatkan Dunia Maya

Media kini muncul dan membanjiri dunia maya, seiring dengan terbukanya kran kebebasan pascareformasi 1998. Ada semangat baru dalam menyuarakan gagasan, yang hampir selama 32 tahun Orde Baru terbungkam.
Meski demikian, hal itu tak diimbangi dengan semangat membangun peradaban Indonesia yang lebih konstruktif. Ini bisa dilihat dari munculnya ribuan situs dan media sosial yang mengatasnamakan Islam, namun menebar  benih kebencian dan hasutan. Jika ini dibiarkan, lambat laun akan menjadi bom waktu. Dan bahkan, percikan dan letupan – efek dari media – itu, sudah banyak meledak.

Bagaimana Kita Merespon?
Ada beberapa cara dan hal yang menurut saya mesti dilakukan. Salah satunya adalah, membuat media alternatif dan pembanding untuk menaggulanginya.
Khusus untuk yang ini, perlu adanya konsolidasi yang terstruktur dan masif dari pemangku kepentingan, yaitu negara dan ormas Islam yang juga memiliki spirit nasionalisme.
Setidaknya, ada tiga sektor yang perlu digarap. Pertama situs atau media sosial yang berisi konten keagamaan yang lebih menekankan akidah, hukum (fiqh) – baik yang bersifat ubudiyah maupun muamalah – dan nilai hikmah keteladanan dalam Islam. Hal ini mengingat pengakses terbesar di dunia maya adalah orang Islam “menengah-kebawah,” yang tak sempat mencari informasi hukum  dll, dari kiai atau ulama moderat.
Kitab-kitab dasar seperti Aqidatul Awam, Fathul Qarib, Nashaihul Ibad dan berbagai kisah inspiratif dalam al-Quran maupun Hadits, yang sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah, perlu ditulis dan disadur ulang dengan kemasan baru, untuk memenuhi kebutuhan ini.
Kedua, situs dan konten (dalam medsos) yang khusus untuk menggarap generasi muda, remaja, atau lebih populernya generasi millenials. Konten disini harus berisi ajaran Islam dan semua tentang keislaman yang disajikan dengan kemasan muda, gaul, beken, trendi, kece dan kekinian. Jika hal ini alpa digarap, wajar kalau banyak remaja kita terjerumus paham radikal.
Ketiga, website yang khusus menangani wacana Islam, politik, sejarah dan sosial budaya. Ini diperuntukkan untuk merespon isu-isu keislaman kontemporer, yang cenderung “melangit” dan jarang disukai orang awam. Meski demikian, situs ini akan banyak diminati, seperti bagaimana tinjauan Islam tentang isu-isu kepemimpinan, HAM, Komunisme, Kapitalisme, Liberalisme, penyelamatan SDA dll.
Sepertinya, gagasan ini mustahil bisa dilakukan tanpa tiga komponen. Pertama, dikonsolidasikannya penulis dan pemuda yang aktif bikin konten kreatif, menjadi sebuah kesatuan dan kekuatan yang massif. Kedua, adanya pendanaan yang memadahi, sebagai sebuah supporting system. Ketiga, literasi atau buku rujukan yang memadahi.
Bagaimana yang sudah ada?
Banyak memang, yang sudah melakukan ketiganya. Namun demikian, masih banyak masuk wilayah yang ketiga, yaitu konten yang dikhususkan untuk pertarungan wacana. Padahal, mengapa orang menjadi radikal banyak dimulai semenjak kecil-remaja, dengan mengkonsumsi ajaran dasar dalam Islam. Ini bisa dilihat, misalnya, dimana banyak sekali orang yang mencari tatacara shalat di google, juga hal yang terkait hukum.
NU sudah memulai dengan kopdar-kopdar kecil di berbagai daerah. Namun, hemat saya, itu masih kurang efektif. Jika ingin melaksanakan ketiganya, saya kira PBNU sangat mampu, dengan jaringannya yang sangat luas. Beberapa websitenya juga masih banyak didominasi oleh berita, yang hemat saya, itu kebanyakan dilirik oleh warga NU sendiri. Meski demikian, ini tetap dan sangat penting sebagai informasi dan aikap resmi, juga rujukan organisasi.
Hal yang perlu dilakukan, hemat saya, adalah mengumpulkan penulis dan pembuat konten kreatif, sambil terus mengadakan pelatihan di berbagai pesantren. Kemudian, yang perlu dikuati ketiga situs dengan target pembaca yang disebut di muka, tidak membuat banyak media. Tak perlu banyak namun perlu dikuati sehingga menjadi media maenstream, yang diikuti dan menjadi rujukan banyak orang.
Saya sangat berharap, ada orang baik atau syukur-syukur PBNU mau benar-benar menggarap serius soal ini, mengingat media hari ini merupakan sarana yang efektif, baik untuk berdakwah maupun mempropagandakan kebencian.
Saya banyak melihat, medi mereka digarap dengan serius dan tepat sasaran, dengan pengikut yang mencapai jutaan masyarakat Islam. Dan meski tak banyak, kita masih punya waktu, sebelum semuanya benar-bemar terlambat. Untuk wajah Islam rahmatan lil alamin, dan untuk Indonesia tercinta.
Pernah dimuat di NU Online pada 19 Maret 2017
Iklan

One thought on “Ikhtiar Sistemik Menyelamatkan Dunia Maya

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: