Sekadar Refleksi

Pengedepanan jawaban yang dibutuhkan bangsa Indonesia dewasa ini bukan respon secara fiqhi (hukum legal formal), maupun saling adu logika akal sehat, menang-menangan dan merasa diri dan atau kelompoknya yang semuanya benar dan yang lainnya semuanya salah. Lalu akan puas kalau saling hina menunjukkan kesalahan sesama saudara kita, tanpa pernah berkaca ke dalam diri masing-masing.

oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Ilmu pengetahuan lebih dominan dijadikan alat menguasi, mematahkan pendapat dan keyakinan yang berbeda secara membabi-buta. Juga untuk merampok duit negara, dimana disaat yang sama tak ada proses edukasi dan pembinaan secara komprehensif dari semua aspek, khususnya seni budaya. Sehingga hari-hari terlewati dengan gersang dan amarah yang meledak-ledak.

Disatu sisi, atas nama Pancasila dan UUD 1945 banyak yang bermain proyek, impor dan manipulasi anggaran untuk membesarkan partai dan kelompoknya masing-masing: penghianatan sila-sila Pancasila. Disisi lain, banyak “ummat” yang putus asa melihat keadaan sehingga mudah tersulut pengatasnamaan-pengatasnamaan, tawaran manis “ideologi instant” dan pemanfaatan kaum oposisi.

Jika ini dilanjutkan terus menerus, dari anak ingusan sampai profesor-doktor di negeri ini, tenaganya akan habis membahas hal remeh-temeh karena efek atas polarisasi dua kubu besar. Dan jika ini dibiarkan terus menerus, tentu hanya sejarah yang mampu mengambilalihnya, seperti dulu: perseteruan akhir Orde Lama yang lebih nyaman konfrontasi tapi lapar dengan Bung Hatta dengan konsep pembangunan ekonomi dan beberapa modernis dan teknokrat. Jenderal Soeharto secara mengejutkan mengambil alihnya dan membuat babak baru: Orde Baru. Mungkin jika sampai titik kulminasinya, hal ini akan terjadi.

Setelah gencarnya pembangunan infrastruktur yang fisikly ini, pemerintah dengan segenap “Guru Bangsa” yang tersisa harus duduk bersama, merumuskan pembangunan spiritual, yang sistemik dari semua lembaganya. Dan khususnya seni budaya dan tradisi, jangan sampai kehilangan spiritualitas. Nilai-nilai itu harus tersublim ke berbagai hal yang soft, pembuatan film sejarah dan semangat perjuangan, pertunjukan televisi yang bermutu, buku, dan seni budaya lain yang begitu banyaknya.

Tapi yang lebih penting sebenarnya, tugas para tokoh, pemimpin dan ulama yang memiliki banyak pengaruh saatnya untuk mengedepankan cinta. Cinta lah yang luntur dan berkurang dewasa ini, tersapu gelombang ingar-bingar kecepatan jagad maya.

Pendekatan tasauf atau sufisme meski lebih diutamakan daripada fiqh bagi pemimpin dalam merespon dan menyikapi keadaan, baru kemudian ushul fiwh dan baru fiqh. Nilai-nilai profan dan esoterik, lebih mendesak untuk diutamakan dalam laku pandangan para pemimpin daripada yang eksoterik untuk saat ini. Materialisme harus secara perlahan dikikis dari mindset dan dibawa seperti era Walisongo – sebelum penjajahan.

Kita telah lama kehilangan itu, setelah getir oleh perjuangan kemerdekaan dan mempertahankannya. Kemudaan Orde Lama dan Baru dengan segala kelebihan-kekurangannya, getir-pahitnya. Dan semenjak reformasi kita menemukan kebebasannya, sebebas-bebasnya. Sufisme dengan cintanya harus kembali kita internalisasikan di dalam dada, sehingga takkan pernah kehabian stok cinta. Kita tuntaskan dulu sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan jalan Cinta. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: