Organisasi Sebagai Wadah Aktualisasi Diri

Ketika diminta mengisi seminar untuk para pemuda dan pemudi Karang Taruna di Desa Kalimeneng, Purworejo, yang terpikir dalam benak saya adalah Karang Taruna itu sendiri, yang meski saya tahu, namun saya tak pernah aktif didalamnya. Mohon maaf apabila banyak kekurangan dalam paparan saya, karena sebenarnya lebih banyak yang lebih berkapasitas daripada saya untuk memaparkan hal-hal yang terkait langsung dengan masyartakat dan desa. Continue reading “Organisasi Sebagai Wadah Aktualisasi Diri”

Iklan

Inilah 11 Fakta Menarik Seputar Perayaan Idul Fitri di Indonesia

Peringatan Hari Raya Idul Fitri begitu dinanti-nantikan oleh jutaan Muslim di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Bahkan, umat  Islam di Nusantara ini dalam menyambut hari kemenangan setelah sebulan puasa, begitu berbunga-bunga, tak seperti umat lain di berbagai penjuru dunia. Dalam menyambut Idul Fitri kali ini, berikut kami sajikan sembilan fakta menarik seputar “keriuhan” Idul Fitri di Indonesia, yang tak ingin “biasa-biasa” saja. Continue reading “Inilah 11 Fakta Menarik Seputar Perayaan Idul Fitri di Indonesia”

Tebar Wangi Cinta dengan Tari Sufi

PRIA muda itu menuju arah panggung, ketika grup rebana An-Nawawi Purworejo sedang mendendangkan shalawat di depan ratusan hadirin. Dengan memakai kopiah dan baju khas masyarakat tradisional Turki, ia berdiri di pojok kiri panggung, malakukan ritual sebentar dan berputar mengikuti irama musik. Ia berputar-putar ke kiri, puluhan kali, bahkan ratusan kali, dengan kaki tetap bertumpu pada tengah, di titik stabil.

Continue reading “Tebar Wangi Cinta dengan Tari Sufi”

Sekadar Refleksi

Pengedepanan jawaban yang dibutuhkan bangsa Indonesia dewasa ini bukan respon secara fiqhi (hukum legal formal), maupun saling adu logika akal sehat, menang-menangan dan merasa diri dan atau kelompoknya yang semuanya benar dan yang lainnya semuanya salah. Lalu akan puas kalau saling hina menunjukkan kesalahan sesama saudara kita, tanpa pernah berkaca ke dalam diri masing-masing. Continue reading “Sekadar Refleksi”

Berdamai dengan Keterbatasan

Salah satu gelar yang disandang Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah al-ummy, yang berarti tidak bisa membaca dan menulis. Dalam argumen teologi dan doktrin Islam moderat, hal ini menjadi dalil aqly bahwa Al-Quran tidak mungkin bikinan Nabi Muhammad SAW–murni dari Allah SWT. Belum lagi fakta bahwa Al-Quran bernilai tinggi dari segi sastra, estetika, keseimbangan, serta tak tertandingi sampai kini. Terlepas dari beberapa penganut teologi Islam rasional dan beberapa orang liberal mempertanyakan ke-ummyian ini, saya selaku warga NU masih dan semoga tetap meyakini sampai mati bahwa beliau benar-benar ummy. Continue reading “Berdamai dengan Keterbatasan”

KH. Hasyim Asyari Pendiri NU di Mata Seorang Santrinya

Di sebuah dusun yang tenang dan damai, bernama Brunosari, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, tinggal seorang kakek berusia hampir seabad. Ia merupakan sedikit di antara murid langsung Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari – sang  pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam terbesar di Indonesia – yang kini masih tersisa.

Dalam suasana Hari Lahir (Harlah) NU ke-94 pada 16 Rajab 1438 H. ini, reporter Ahmad Naufa Khoirul Faizun dan juru kamera Ahmad Nasuhan menemuinya, dan mengulasnya khusus untuk Anda, pembaca setia NU Online. Continue reading “KH. Hasyim Asyari Pendiri NU di Mata Seorang Santrinya”

Sepatu Mahal Itu Hilang di Masjid

“Mas, tau sepatu hitam disini, nggak?”, tanya seorang cewek cantik, berkerudung krem, kepadaku.


Foto diatas saya ambil ketika mampir di Masjid Jami’ Baitur Rahman, Semarang, Jawa Tengah, sore ini. Beberapa jenak setelah saya iseng selfie, datang dari arah dalam, seorang bapak agak tua, dengan rambut beruban, yang sepertinya sudah berkepala enam. Dibelakangnya mengikuti, seorang cewek cantik berkerudung krem. Keduanya melihat-lihat ke arah bawah. Setelah mengamati ujung kiri sampai kanan, sang cewek melempar tanya kepadaku, dengan pertanyaan diatas: “Mas, tau sepatu hitam disini, nggak?” Continue reading “Sepatu Mahal Itu Hilang di Masjid”

Ikhtiar Sistemik Menyelamatkan Dunia Maya

Media kini muncul dan membanjiri dunia maya, seiring dengan terbukanya kran kebebasan pascareformasi 1998. Ada semangat baru dalam menyuarakan gagasan, yang hampir selama 32 tahun Orde Baru terbungkam.
Meski demikian, hal itu tak diimbangi dengan semangat membangun peradaban Indonesia yang lebih konstruktif. Ini bisa dilihat dari munculnya ribuan situs dan media sosial yang mengatasnamakan Islam, namun menebar  benih kebencian dan hasutan. Jika ini dibiarkan, lambat laun akan menjadi bom waktu. Dan bahkan, percikan dan letupan – efek dari media – itu, sudah banyak meledak.

Continue reading “Ikhtiar Sistemik Menyelamatkan Dunia Maya”

Belajar Memaknai Toleransi Kiai Hasyim Muzadi

Ketika turun dari mobil sedan hitam, 23 Mei tahun lalu (2016), wajah KH Ahmad Hasyim Muzadi (1944-2017) masih pucat pasi. Beliau di sambut Bupati Purworejo dan para tokoh NU memasuki ruang jamuan pendopo kabupaten.
Seminggu sebelumnya, kami panitia Halaqah Kebangsaan sempat was-was. Yah, di koran disebutkan, beliau  sedang sakit dan dirawat sebuah rumah sakit di Jakarta.
“Apa sebaiknya kita cari pendamping untuk beliau, siapa tahu beliau masih sakit dan tidak bisa hadir,” usulku. Teman-teman Lakpesdam NU Purworejo mengamini. Namun demikian, beberapa hari kemudian, konfirmasi kehadiran beliau kami terima.

Continue reading “Belajar Memaknai Toleransi Kiai Hasyim Muzadi”

Atas ↑